Sabtu, 21 November 2015

MGR. SOEGIJAPRANATA

Pada hari Senin tanggal 5 Oktober 2015, saya berkesempatan untuk mengunjungi makam salah satu tokoh yang cukup besar pada masanya, Alm. Mgr. Soegijapranata di Makam Pahlawan Semarang. Beliau meninggal dunia pada tanggal 22 Juli 1963 saat berusia 66 tahun. Beliau dianggap sebagai pahlawan bagi kaum Katolik di Indonesia.
            Beliau meninggal dan dianggap sebagai pahlawan karena setelah Presiden Soekarno memproklamasi kemerdekaan Indonesia, Semarang dipenuhi dengan kekacauan. Soegijapranata membantu menyelesaikan Pertempuran Lima Hari dan menuntut agar pemerintah pusat mengirim seseorang dari pemerintah untuk menghadapi kerusuhan di Semarang. Biarpun permintaan ini ditanggapi, Semarang menjadi semakin rusuh dan pada tahun 1947 Soegijapranata pindah ke Yogyakarta. Selama revolusi nasional Soegijapranata berusaha untuk meningkatkan pengakuan Indonesia di dunia luas dan meyakinkan orang Katolik untuk berjuang demi negera mereka. Tidak lama setelah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia, Soegijapranata kembali ke Semarang. Dalam periode pasca-revolusi ia banyak menulis mengenai komunisme dan berusaha untuk mengembangkan pengaruh  Katolik, serta menjadi perantara beberapa faksi politik. Pada tanggal 3 Januari 1961 ia diangkat sebagai uskup agung, saat Tahta Suci mendirikan enam provinsi gerejawi di wilayah Indonesia. Soegijapranata bergabung dengan sesi pertama dari Konsili Vatikan II. Soegijapranata sampai sekarang dihormati orang Indonesia, baik pemeluk Katolik maupun bukan. Berbagai biografi tentang ia sudah ditulis oleh berbagai penulis, dan pada tahun 2012 sebuah film biopik fiksi garapan Garin Nugroho, yang diberi judul SoegijaUniversitas Katolik Soegijapranata, sebuah universitas di Semarang, dinamakan untuk mengenang jasa dari Soegijapranata.
Melihat hal tersebut, nilai-nilai positif yang dapat kita ambil dari sepanjang kehidupan Soegijapranata adalah untuk selalu memperjuangkan sesuatu yang kita anggap benar, selain itu beliau dikenal memiliki sifat ugahari mandiri, artinya dalam menjalani kehidupan sehari-hari sebaiknya kita menjalaninya dengan sederhana dan mandiri.

2 komentar:

  1. Tokoh yg menjadi teladan kita menganut pendidikan, terus berkarya

    BalasHapus
  2. tokoh yang dapat menginspirasi,good job

    BalasHapus